mutiara hikmah puasa pondok pesantren surabaya

mutiara hikmah puasa pondok pesantren surabaya

Mutiara hikmah ramadhan dikutip dari sumber kalam ahlul bait oleh pondok pesantren surabaya

Dalam memulai ulasannya pondok pesantren surabaya memulai dengan kutipannya Berkata sebagian arifin,
‎الصوم بقدر ما يكون تجويعا للبطن فانه يكون غذاء للروح
yang artinya Besarnya makanan bagi ruh sesuai kadar kosongnya perut seseorang. Semakin lapar perut seseorang ketika berpuasa semakin besar cahaya yang masuk ke dalam ruhnya, demikian sekilas prolog yang disampaikan oleh pondok pesantren surabaya dalam mensadur tulisannya

lantas penunuturan pondok pesantren surabaya melanjutkan bahwa Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata
‎ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ: ﻭﻣﻦ ﺁﺩﺍﺏ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ ، ﻭﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻷﻛﻞ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻟﻴﻘﺘﺼﺪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻳﺠﺪ ﻣﺲ ﺍﻟﺠﻮﻉ ﻭﺍﻟﻌﻄﺶ ؛ ﻓﺘﺘﻬﺬﺏ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺗﻀﻌﻒ ﺷﻬﻮﺗﻪ ، ﻭﻳﺴﺘﻨﻴﺮ ﻗﻠﺒﻪ …ﻭﺫﻟﻚ ﺳﺮ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻩ (ﺍﻟﻨﺼﺎﺋﺢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺹ 138
yang artinya menurut pemahaman pondok pesantren surabaya adalah Diantara adab-adabnya orang yang berpuasa, hendaknya ia tidak memperbanyak tidur di siang hari dan tidak memperbanyak makan di malam hari. Hendaknya ia bersikap wajar saja akan hal tersebut, sehingga ia tetap merasakan rasa lapar dan dahaga (di siang harinya karena tidak banyak tidur, dan di malam harinya mampu berjaga karena tidak terlalu kenyang). Dengan demikian jiwanya akan bersih, nafsu syahwatnya akan melemah dan hatinya akan bercahaya. Inilah rahasia dan tujuan dari ibadah puasa”

lebih lanjut pondok pesantren surabaya membeikan ulasan yang lebih tajam lagi berkaitan dengan puasa dengan mengutip pendapat Jalaluddin Rumi, Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, Api nya akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab. Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan di dalam hasratmu, demikian pendapat jalaludi rumi menurut pemahaman yang dikaji oleh pondok pesantren al insaniyah surabaya

Lebih lanjut pondok pesantren surabaya mengutip pandangan Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin yang menerangkan tiga tingkatan dalam berpuasa. Tingkatan pertama adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat. Tingkatan kedua selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Tingkatan ketiga adalah menjaga pandangan hati agar senantiasa memandang Allah dan tidak terbersit kepada selain allah.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan puasa kita pondok pesantren surabaya mengutip pendapat KH Zaini abdul ghoni, menurut beliau Bulan puasa adalah bulan riyadhoh, demikian Abah Guru Sekumpul memberikan wejangannya, Arti riyadhoh itu tarkul manam (meninggalkan tidur), tarkul anam (meninggalkan manusia, uzlah), tarkul tho’am ( meninggalkan makanan, lapar), tarkul kalam (meninggalkan berbicara, banyak diam).

Lebih lanjut pondok pesantren surabaya mengutip pendapat Syekh Abil Hasan As Syadzili, Jika engkau ingin diberikan khusyu’ maka janganlah memandang hal-hal yang diharamkan Allah. Jika engkau ingin dianugerahi hikmah maka janganlah berlebihan dalam berbicara (perbanyaklah diam). Jika engkau ingin merasakan lezatnya iman maka janganlah berlebihan dalam makanan.

Demikian sekilas tentang hikmah puasa saduran pondok pesantren surabaya mudah mudahan bisa mendai ilmu yang bermanfaat serta tak lupa salam manis dari segnap santri pondok pesantren al insaniyah surabaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat